Sejarah Sastra Indonesia dalam Enam Zaman


Sejarah Sastra Indonesia dalam Enam Zaman

a. Zaman Purba
Generasi awal suatu bangsa disebut masyarakat purba atau masyarakat primitif. Meski primitif, zaman purba sudah mengalami perkembangan kebudayaan. Karya sastra pada zaman ini berbentuk cerita-cerita pelipur lara, dongeng-dongeng, silsilah, kepercayaan, doa, dan mantera-mantera yang disampaikan secara lisan oleh seorang dukun atau pawang saat mengadakan upacara pemujaan atau persembahan.

Berdasarkan perkakas rumah tangga yang mereka hasilkan dan gunakan, zaman purba terbagi menjadi:
- Zaman batu
- Zaman perunggu
- Zaman tembaga
- Zaman besi


b. Zaman Hindu-Budha
Pada zaman ini telah dikenal sastra tulisan. Cerita, dongeng dan mantera ditulis pada daun-daun lontar ataupun kulit-kulit binatang. Cerita-cerita yang dihasilkan banyak mengandung nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai moral, nasihat-nasihat, pelipur lara, silsilah keluarga, serta bersifat mendidik.

Karya sastra pada zaman ini diantaranya adalah:
1) Berbentuk hikayat: Mahabrata karya Empu Wiyasa, Ramayana karya Empu Walmiki, Baratayudha karya Empu Sedah dan Empu Panulu, Arjuna Astra Bahu.
2) Berbentuk ramalan: Kisah Jayabaya karya Prabu Jayabaya, Joko Lodang karya Bg. Ronggowarsito.
3) Berbentuk kitab: Kitab Negara Kertagama, Kitab Weda, Kitab Arjuna Wiwaha, serta Pararaton.


c. Zaman Sastra Islam
Pada zaman ini, karya sastra memiliki ciri:
- bersifat istana sentris atau selalu menceritakan tentang kehidupan kaum raja atau bangsawan,
- berisikan tentang ajaran-ajaran moral, pendidikan serta agama.
- isinya masih bercampur dengan masalah adat-istiadat ajaran Budha dan Hindu, dan
- banyak berisi hal-hal tentang keimanan.

Karya sastra pada zaman ini adalah:
a. Hamzah Fansuri:
-Prosa Asrar Al Arifin
- Syair Dagang
- Syair Si Burung Pingai
- Syair Perahu

b. Samsuddin As-Samatrani:
- Sarh Rubali Hamzah Al-Fansuri
- Mir’at Al-Iman
- Mir’at Al-Mukminin

c. Syekh Nuruddin Ibn Ali Ar-Raniri:
- Bustanu’s Salatin
-  Sirata I Mustaqim
- Tibyan fi Ma’rifat Al-Adyan

d. Raja Ali Haji:
- Gurindam Dua Belas
- Syair Abdul Muluk

e. Bukhari Al-Jauhari
- Tajus Salatina (Mahkota Raja-Raja)

f. Tun Muhammad Sri Lanang
-  Salalatu’s Salatina (Sejarah Melayu)

g. Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
- Hikayat Abdulah (otobiografi)
- Syair Perihal Singapura Dimakan Api
- Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah
- Kisah Pelayaran Abdullah dari Singapura ke Mekkah


Beberapa karya lain yang dihasilkan pada zaman ini:
1) Kitab yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan huruf Jawa kuno: Kitab Papakem Cirebon, Kitab Undang-Undang Mataram, Kitab Adat Mahkota Alam.

2) Karya yang ditulis dengan bahasa Arab-Melayu dengan huruf Arab gundul: Syair Perahu dan Syair Dagang karya Hamzah Fansuri; Kitab Tasawuf Tibyan, Bustanul Salatina, dan Sirotulmustaqim karya Nurrudin Arraniri; Serat Wirid karya Ronggo Warsito.

3) Karya berbentuk puisi:
- Masnawi, yaitu puisi tentang pemujaan dan tingkah laku yang mulia,
- Ruba’i, yaitu puisi yang berbau mistik, nasihat, serta puja-pujaan,
- Kit’ah, yaitu puisi yang berisikan nasihat-nasihat,
- Nazam, yaitu puisi tentang hamba sahaya para raja,
- Gazal, yaitu puisi tentang cerita cinta kasih antara dua kekasih.


d. Zaman Sastra Melayu
Menurut para ahli sastra modern, zaman sastra melayu merupakan cikal bakal lahirnya sastra indonesia, karena bahasa melayu adalah cikal bakal lahirnya bahasa Indonesia.

Karya-karya pada zaman ini adalah:
Hikayat Si Miskin, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Amir Hamzah, Syair Bidasari, Syair Ken Tambunan, Sejarah Melayu, Syair Cik Tunggal, Syair Singapura Dimakan Api, Abu Nawas, Cerita Nasrudin, Hikayat Bayan Budiman, Hi 1001 Malam, Hi Bachtiar, Hi Iskandar Zulkarnaen, Hi Mohammad Hanafiah, Hi Raja-raja Pasai, Hi Melayu Bugis, Tajussalatina karya Bakhari Al Jauhari, Bustanussalam karya Nurrudin Ar Raniri, Syair Burung Pingai dan Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, Sulalatussalatina karya Mohammad Tun Sri Lanang.


e. Zaman Sastra peralihan
Zaman ini terjadi setelah zaman sastra Melayu sebelum masuk zaman sastra Indonesia. Zaman sastra peralihan disebut juga Zaman Abdullah bin Abdul Kadir al Munsyi, sebab dalam karya-karya Abdullah bin Abdul Kadir al Munsyi mulai tampak sedikit-sedikit meninggalkan gaya sastra sebelumnya, di samping itu Abdullah juga merupakan salah seorang sastrawan yang sangat produktif melahirkan karya-karya sastra dibanding sastrawan lain yang hidup di zaman sastra peralihan ini.

Karya-karya pada zaman sastra peralihan:
Syair Abdul Muluk karya Siti Saleha, Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, dan karya Abdullah bin Kadir al Munsyi, yaitu: Kisah Pelayaran Abdullah Ke Negeri Jeddah, Kisah Pelayaran Abdullah Ke Kelantan, Syair Singapura Dimakan Api, Hikayat Abdullah, Panji Tanderan, Hikayat Kalilah dan Daminah.


f. Sastra Indonesia
Sastra Indonesia adalah karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sejak bahasa Indonesia diumumkan sebagai bahasa persatuan pada acara Sumpah Pemuda tahun 1928, segala macam kegiatan komunikasi dan berkarya sastra ditulis dalam bahasa Indonesia. Sedangkan karya-karya sastra yang lahir sebelum diikrarkan sumpah pemuda tahun 1928 dan tidak ditulis dalam bahasa Melayu tingkat tinggi (bahasa Melayu yang telah mengalami perkembangan pesat) disebut karya sastra nusantara.

Pada masa ini, sastra Indonesia mengalami perkembangan pesat, dengan karyanya berbentuk mantera, pantun, puisi, prosa, drama, teater, dan film.

Roman Azab dan Sengsara  karya Merary Siregar yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1920, oleh para ahli dianggap sebagai roman pertama lahirnya sastra Indonesia. Setelah roman tersebut kemudian bermunculanlah roman-roman lain di tanah air, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dan penerbit-penerbit lain yang lahir setelah Balai Pustaka.


Daftar Pustaka:
Supratman Abdul Rani, Drs., 1996. Ikhtisar Sastra Indonesia. Bandung: CV. Pustaka Setia


0 comments:

Posting Komentar