Sastrawan Indonesia: A.A. Navis

Nama Lengkap: Haji Ali Akbar Navis
Nama Lain: A.A. Navis
Lahir: 17 Nopember 1924, di Padangpanjang, Sumatera Barat
Meninggal: 22 Maret 2003, di Bandung, Jawa Barat

Sastrawan Indonesia: A.A. Navis
Sastrawan Indonesia: A.A. Navis
Haji Ali Akbar Navis adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek ‘Robohnya Surau Kami’. Cerpen ini mendapat banyak sorotan dan tanggapan dari para kritikus sastra.

A.A. Navis telah menghasilkan ratusan karya, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi. Ia bahkan telah menjadi guru bagi banyak sastrawan.

Namun di antara semua karya A.A. Navis, cerpen-cerpennya adalah yang paling banyak mendapatkan apresiasi. Sebagian cerpen-cerpen karya A.A. Navis bahkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, dan Malaysia.

A.A. Navis pernah memimpin perguruan nasional INS Kayu Taman (yang merupakan almamaternya), menjadi Ketua Dewan Kesenian Sumbar, dan Ketua Lembaga “Gebu Minang” Sumbar.

Karya terakhir A.A. Navis sebelum beliau meninggal adalah ‘Simarandang’, yang merupakan jurnal sosial-budaya dan diterbitkan pada bulan April 2003 atau satu bulan setelah A.A. Navis meninggal.


Trivia / Penghargaan:
- tahun 1968, novel Saraswati: Si Gadis dalam Sunyi mendapat penghargaan dalam sayembara mengarang UNESCO/IKAPI.
- tahun 1975, cerpen Jodoh karya A.A. Navis mendapat penghargaan pada sayembara menulis Cerpen Kincir Emas yang diselenggarakan oleh Radio Nederland.
- tahun 1988, mendapat Hadiah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
- tahun 1992, mendapat Hadiah Sastra dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
- tahun 1992, mendapat penghargaan SEA Award dari Kerajaan Muangthai.


Karya A.A. Navis:
- Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (2005)
- Gerhana (novel, 2004)
- Bertanya Kerbau Pada Pedati (kumpulan cerpen, 2002)
- Cerita Rakyat dari Sumatera Barat 3 (2001)
- Kabut Negeri Si Dali (kumpulan cerpen, 2001)
- Dermaga Lima Sekoci (2000)
- Jodoh (kumpulan cerpen, 1999)
- Yang Berjalan Sepanjang Jalan (1999)
- Cerita Rakyat dari Sumatera Barat 2 (1998)
- Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei: Ruang Pendidik INS Kayutanam (1996)
- Otobiografi A.A. Navis: Satiris dan Suara Kritis dari Daerah (1994)
- Surat dan Kenangan Haji (1994)
- Cerita Rakyat dari Sumatera Barat (1994)
- Hujan Panas dan Kabut Musim (kumpulan cerpen, 1990)
- Pasang Surut Pengusaha Pejuang: Otobiografi Hasjim Ning (1986)
- Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (1984)
- Di Lintasan Mendung (1983)
- Dialektika Minangkabau (editor) (1983)
- Dermaga dengan Empat Sekoci (kumpulan Puisi, 1975)
- Saraswati: Si Gadis dalam Sunyi (novel, 1970)
- Kemarau (1967)
- Hudjan Panas (1964)
- Bianglala (kumpulan cerpen, 1963)
- Robohnya Surau Kami (kumpulan cerpen, 1956)


Cerpen-cerpen karya A.A. Navis juga diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen:
1. dalam Dari Jodoh Sampai Supiyah, terbit tahun 1976.
2. dalam Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan: Cerpen Pilihan KOMPAS 1997.
3. dalam Derabat: Cerpen Pilihan KOMPAS 1999.
4. Cerpen Dua Orang Sahabat, dalam Dua Tengkorak Kepala: Cerpen Pilihan KOMPAS 2000.
5. Cerpen Inyik Lanak Si Tukang Canang, dalam Mata yang Indah: Cerpen Pilihan KOMPAS 2001.
6. Cerpen Tamu yang Datang di Hari Lebaran, dalam Kurma: Kumpulan Cerpen Puasa-Lebaran Kompas, terbit tahun 2002.
7. Riwayat Negeri yang Haru: Cerpen KOMPAS Terpilih 1981-1990, terbit tahun 2006.


Kontribusi:
Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana, Arswendo Atmowiloto, Subagio Sastrowardoyo, dan sastrawan lain, A.A. Navis berkontribusi dalam pembuatan buku ‘Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang.’


Buku tentang A.A. Navis:
- B.L. Robbins dari ANU, Australia membuat tesis berjudul ‘Religion and Human Issues in the Works of A.A. Navis, a west Sumatran Author’ yang merupakan penelitian mendalam terhadap karya-karya A.A. Navis, baik cerpen maupun novel.
- A.A. Navis: Karya dan Dunianya (oleh Ivan Adilla, 2003)


Kutipan / quotes dari A.A. Navis:
"Sebelum menulis Prosa, aku menulis puisi, lima puluh tahun lalu. Aku berhenti karena mengira puisi tidak cukup kata, puisi gelap kental bermakna." ¾A.A. Navis.

“Kalau yang memuji itu teman baik, itu biasa. Kalau yang mencela itu musuh, juga biasa. Tapi kalau yang memuji itu musuh, dan yang mencela itu kawan, itu menyebabkan saya berpikir-pikir.” ―A.A. Navis.

“Hal lain yang menghalangi produktivitas ialah pujian kritisi. Pujian itu bagai menantang saya, agar saya menulis yang nilainya sama dengan apa yang terbaik telah saya tulis selama ini.” ―dalam buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang.


0 comments:

Posting Komentar