![]() |
Nama Lain: Buya
Hamka
Lahir: 17
Februari 1908, di Maninjau, Sumatra Barat.
Meninggal: 24 Juli
1981.
Dikenal dengan nama Hamka, ia merupakan seorang penulis,
ulama, dan politikus. Tahun 1970-an, Hamka pernah menjadi ketua Majelis Ulama
Indonesia (MUI), yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Selain itu, di masa penjajahan Belanda, Hamka pernah menjadi
kepala editor majalah Pedoman Masyarakat,
Panji Masyarakat, dan Gema Islam.
Karya Tulis Hamka:
- Di Bawah Lindungan Ka’bah (roman, 1938)
- Karena Fatimah (roman, 1938)
- Tenggelamnya Kapal van der Wijck (roman, 1938)
- Tuan Direktur (roman, 1939)
- Merantau ke Deli (1939)
- Margaretta Gauthier, by Alexandre Dumas fils, Hamka
(Penerjemah) (1941)
- Bohong Di Dunia (1949)
- Lembaga Hikmat (1953)
- Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi (1963)
- Keadilan Sosial Dalam Islam (1966)
- Muhammadiyah di Minangkabau (1974)
- Pemimpin dan Pimpinan (1975)
- Menunggu Beduk Berbunji (1976)
- Di Bawah Gema Takbir (1976)
- Said Jamaluddin Al-Afghany (1981)
- Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, by Rusydi
Hamka, Hamka, (1981)
- Said Jamaluddin Al-Afghany (1981)
- Perjalanan Terakhir (1981)
- Iman dan Amal Shaleh (1982)
- Ghirah Dan Tantangan Terhadap Islam (1983)
- Hamka Membahas Soal-soal Islam, by Rusydi Hamka (Editor),
Hamka (1983)
- Islam dan Adat Minangkabau (1984)
- Islam: Revolusi Ideologi dan Keadilan Sosial (1984)
- Renungan Tasawuf: Manisnya Iman (1985)
- Sejarah Umat Islam (1997)
- Hak Asasi Manusia Dalam Islam & Deklarasi PBB
- Pandangan Seorang Muslim
- Perkembangan Kebatinan Di Indonesia
- Sedjarah Islam di Sumatera
- Cermin Penghidupan
- Tasauf dari Abad ke Abad
- Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya
- Falsafah Ketuhanan (2006)
- Angkatan Baru (2008)
- Kedudukan Wanita Dalam Islam (2009)
- Kenang-Kenangan Hidup (2009)
- Tuntunan Puasa, Tarawih & Shalat Aidilfitri (2009)
- Keadilan Ilahi (2010)
- Pribadi Hebat (2014)
- Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan (2014)
Tafsir Al Qur’an yang
Ditulis oleh Hamka:
- Tafsir Al-Azhar: Juz 'Amma
- Tafsir Al-Azhar Jilid 1: Juz 1, 2, 3- Tafsir Al-Azhar Jilid 2: Juz 4, 5, 6
- Tafsir Al-Azhar (Juz' 11)
- Tafsir Al Azhar Juz II
- Tafsir Al-Azhar Juz III
- Tafsir Al-Azhar Juz IV
- Tafsir Al-Azhar Juz V
- Tafsir Al-Azhar Juz VIII
- Tafsir Al-Azhar Juz IX
- Tafsir Al-Azhar Juz XVII
- Tafsir Al-Azhar Juz XVIII
- Tafsir Al-Azhar Juz XIX
- Tafsir Al-Azhar Juz XX
- Tafsir Al-Azhar Juz XXI
- Tafsir Al-Azhar Juz XXII
- Tafsir Al-Azhar Juz XXIII
- Tafsir Al-Azhar Juz XXIV
- Tafsir Al-Azhar Juz XXV
- Tafsir Al-Azhar Juz XXVI
- Tafsir Al-Azhar Juz XXVII
- Tafsir Al-Alzhar Juz XXVIII
- Tafsir Al-Azhar: Karya Agung Ulama Nusantara, Jilid 1 (Juz
1, 2 & 3)
Kutipan / quotes dari
Hamka:
“Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap
diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci.
Jika ia jatuh pada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati,
keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai terpuji.”
“Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan
ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.”
“Kata-kata yang lemah dan beradab dapat melembutkan hati dan
manusia yang keras.”
“Kita memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang
kita cari.”
“Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah
yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal
hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena
dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari
jalan yang benar pada langkah yang kedua.”
“Lebih banyak orang menghadapi kematian di atas tempat tidur
daripada orang yang mati di atas pesawat. Tetapi kenapa lebih banyak orang
yang takut mati ketika menaiki pesawat daripada orang yang takut menaiki tempat
tidur?”
“Yang amat ajaib ialah peperangan di antara otak dan hati.
Beberapa saat dia dapat dilupakan dan hati mengikut dengan patuh apa kehendak
otak. Tapi bila kelihatan rumah tangganya, atau kelihatan rupanya sendiri, dan
kadang-kadang bila namanya disebut orang, hati lupa akan perintah otak, ia
kembali berdebar ia surut kepada kenang-kenangannya yang lama. Ini yang kerap
kali mengalahkan anakanda.”
“Di belakang kita berdiri satu tugu yang bernama nasib, di
sana telah tertulis rol yang akan kita jalani. Meskipun bagaimana kita mengelak
dari ketentuan yang tersebut dalam nasib itu, tiadalah dapat, tetapi harus
patuh kepada perintahnya.”
“Jangan takut menghadapi cinta. Ketahuilah bahawa Allah yang
menjadikan matahari dan memberinya cahaya. Allah yang menjadikan bunga dan
memberinya wangi. Allah yang menjadikan tubuh dan memberinya nyawa. Allah yang
menjadikan mata dan memberinya penglihatan. Maka Allah pulalah yang menjadikan
hati dan memberinya cinta. Jika hatimu diberiNya nikmat pula dengan cinta
sebagaimana hatiku, marilah kita pelihara nikmat itu sebaik-baiknya, kita jaga
dan kita pupuk, kita pelihara supaya jangan dicabut Tuhan kembali. Cinta adalah
iradat Tuhan, dikirimnya ke dunia supaya tumbuh. Kalau dia terletak di atas
tanah yang lekang dan tandus, tumbuhnya akan menyeksa orang lain. Kalau dia
datang kepada hati yang keruh dan kepada budi yang rendah, dia akan membawa
kerosakan. Tetapi jika dia hinggap kepada hati yang suci, dia akan mewariskan
kemuliaan, keikhlasan dan taat kepada Ilahi.”

0 comments:
Posting Komentar