![]() |
Deskripsi:
Novel Tenggelamnya
Kapal van der Wijck merupakan kisah cinta tak sampai karena terhalang oleh
adat (Minangkabau). Diceritakan bahwa Zainuddin tidak berhasil mempersunting Hayati
karena Zainuddin dianggap tidak memiliki asal-usul yang jelas. Zainuddin
bahkan harus melihat gadis pujaannya menikah dengan sahabat baiknya, Aziz. Tapi
kisah cinta Zainuddin dan Hayati tidak berakhir di sana.
Novel karya Hamka ini pernah mengalami polemik tahun setelah
tahun 1961 Abdullah Said Patmadji atau lebih dikenal dengan sebutan Abdullah
S.P., mengeluarkan tulisan yang menyebutkan bahwa novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck merupakan karya jiplakan.
Tulisan Abdullah S.P. itu dipublikasikan dalam lembaran
kebudayaan "Lentera" harian Bintang
Timur, pada tanggal 12 dan 14 September 1962. Dalam tulisannya, Abdullah
S.P. menyebutkan bahwa Tenggelamnya Kapal
van Der Wijck merupakan jiplakan dari Magdalaine
karangan Alphonse Care yang diterjemahkan oleh Said Mustafa al-Manfaluthi ke dalam
bahasa Arab.
Tulisan Abdullah S.P. itu kemudian disebarluaskan oleh
Kantor Berita Antara dalam buletin hariannya tanggal 19 September 1962. Sejak
itu tuduhan jiplakan novel Tenggelamnya
Kapal van der Wijck meluas dan menjadi polemik. Berbagai tanggapan pun berdatangan
dari kritikus, sastrawan, penerjemah, dan pemerhati sastra. Pramoedya Ananta
Toer, pimpinan "Lentera" Bintang Timur saat itu, bahkan mengungkapkan
kekecewaannya dan berharap agar Hamka meminta maaf kepada seluruh pembaca.
Sementara itu, Zuber Usman, mantan Redaktur Balai Pustaka menyatakan
bahwa Hamka memang banyak dipengaruhi oleh Manfaluthi sehingga wajar jika karya
Hamka bernapaskan karya Manfaluthi dan hal-hal seperti itu tak perlu
dihebohkan.
Tanggapan senada disampaikan oleh Nur St. Iskandar yang
menyebut bahwa apa yang dilakukan oleh Hamka bukan pekerjaan menjiplak. Tuduhan
menjiplak tidak tepat diberikan kepadanya sebab Hamka memang seorang pengarang.
Hal itu lebih baik dikatakan sebagai pengaruh Manfaluthi terhadap Hamka (2
Oktober 1962).
Selama polemik, Hamka memilih diam karena tidak mau melayani
fakta yang dicampuradukkan dengan opini. Namun pada 30 September 1962, sebuah
komentar dari Hamka muncul pada harian Berita
Minggu. Dalam komentar itu, Hamka menyatakan bahwa ia memang sangat
terpengaruh oleh Manfaluthi. Hamka juga menyebutkan bahwa tuduhan penjiplakan hanyalah
ingin menjatuhkan namanya.
Setelah polemik yang berkepanjangan, akhirnya A.S. Alatas,
dosen Fakultas Sastra UI Jurusan Sastra Arab, kemudian menerjemahkan karya
Manfaluthi. Setelah penerjemahan itu, tanggal 17 Februari 1963, H.B. Jassin mengeluarkan
pernyataan bahwa meskipun terdapat persamaan tema, plot, dan pikiran, Hamka
jelas-jelas menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasinya. Persamaan
yang mungkin ada dengan karangan Manfaluthi dengan menyajikan beberapa pikiran
dan patron cerita dapatlah dikembalikan pada pengaruh belaka, Hamka tidaklah
menjiplak.
Tapi polemik tidak berakhir di situ. Tanggal 24 Februari
1963, harian Bintang Timur kemudian
menurunkan bantahan atas keterangan H.B. Jassin tersebut melalui artikel
berjudul "Berdasarkan Keterangan H.B. Jassin: Tenggelamnya Kapal van der
Wijck Memang Plagiat, yang Tidak Plagiat Cuma Caranya Lakukan Plagiat".
Polemik Tenggelamnya
Kapal van der Wijck tidak pernah benar-benar selesai. Hingga kini, masih
ada yang menyebut bahwa tuduhan penjiplakan pada karya Hamka sesungguhnya
merupakan serangan politik dari Lekra kepada Hamka yang tidak sehaluan politik.
Trivia/Penghargaan:
- tahun 1988, Ramadhan Syukur (Fakultas Sastra UI) menyusun
skripsi berjudul “Problema Adat
Minangkabau dalam Empat Novel Hamka” sebagai kajian novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
- tahun 2013, novel Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck diadaptasi ke film layar lebar oleh sutradari Sunil
Soraya, dengan pemeran utama Pevita Pearce sebagai Hayati, Herjunot Ali
sebagai Zainuddin, dan Reza Rahadian sebagai Aziz.
- tahun 2013-2015, novel Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck masuk daftar best
seller.
Kutipan dari buku:
“Kerana apabila saya bertemu dengan engkau, maka matamu yang
sebagai bintang timur itu senantiasa menghilangkan susun kataku.”
“Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan
menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan,
menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan.”
“Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah
buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut
palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar
robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang.”
“Kadang-kadang cinta bersifat tamak dan loba, kadang-kadang
was-was dan kadang-kadang putus asa.”
“Demikianlah perempuan, dia hanya ingat kekejaman orang
kepada dirinya, walaupun kecil, dan dia lupa kekejamannya sendiri kepada orang
lain walaupun bagaimana besarnya.”
Edisi & cetakan:
Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck pertama kali diterbitkan tahun 1938 sebagai cerita
bersambung dalam rubrik "Feuilleton" majalah Pedoman Masyarakat. Cerber tersebut kemudian dikumpulkan oleh
Syarkawi, lalu diterbitkan di Medan oleh Penerbit Centrale Courant pada tahun
1939.
Sejak itu, novel Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck telah mengalami cetak ulang berkali-kali oleh penerbit
yang berbeda-beda. Cetakan pertama (1939) dan kedua (1949) oleh Penerbit
Centrale Courant, cetakan ketiga (1951), keempat (1958), dan kelima (1961) oleh
Balai Pustaka, cetakan keenam (1961) dan ketujuh (1963) oleh Penerbit NV
Nusantara, dan cetakan berikutnya oleh Penerbit Bulan Bintang.
Novel ini juga diterbitkan dalam edisi bahasa Melayu oleh
beberapa penerbit berbeda, seperti penerbit PTS Publishing, penerbit Puteh
Press, penerbit PSN Publications, penerbit Pustaka Dini, dan penerbit Pustaka
Antara.
Di buku-buku cetakan lama, bahasa yang digunakan masih
bahasa ejaan lama. Judul bukunya tertulis sebagai ‘Tenggelamnja Kapal Van Der
Wijck’, dan nama Hamka tertulis sebagai ‘H. A. M. K. AMRULLAH’.
![]() |
TENGGELAMNJA Kapal van der Wijck
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 1951
Edisi: Softcover, 200 halaman
|
![]() |
Tenggelamnja KAPAL van der WIJCK
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 1957
Edisi: hardcover, 200 halaman
|
![]() |
Tenggelamnja KAPAL van der WIJCK
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 1951
Edisi: Paperback
|
![]() |
TENGGELAMNJA KAPAL v.d. WIJCK
Penerbit: N.V. Nusantara, Bukittinggi
Tahun terbit: 1961
|
![]() |
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penerbit: Bulan Bintang
Tahun terbit: 1984
Edisi: Softcover, 224 halaman
|
![]() |
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Tahun terbit: 1989
|
![]() |
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penerbit: Bulan Bintang
Tahun terbit: 1990
Edisi: Paperback, 224 halaman
|
![]() |
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penerbit: Bulan Bintang
Tahun terbit: 2009
ISBN: 9794180556 (ISBN13: 9789794180556)
Edisi: Paperback, 226 halaman
|
![]() |
Tenggelamnya KAPAL Van Der Wijck
Penerbit: Bulan Bintang
Tahun terbit: 2012
Edisi: Paperback, 225 halaman
|
![]() |
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 2013
Edisi: edisi Revisi, Paperback, 264 halaman
|
Edisi Penerbit Malaysia:
![]() |
Tenggelam-nya Kapal Van der Wijck
Penerbit: Pustaka Antara, Kuala Lumpur
Tahun terbit: 1966
Bahasa: Melayu
|
![]() |
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penerbit: Pustaka Dini, Shah Alam
Tahun terbit: 2002
ISBN: 9794180556 (9789833707-676)
Edisi: Paperback, 188 halaman
Bahasa: Melayu
|
![]() |
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penerbit: Pustaka Dini, Shah Alam
Tahun terbit: 2010
Edisi: Paperback, 350 halaman
Bahasa: Melayu
|
![]() |
Tenggelamnya KAPAL Van Der Wijck
Penerbit: PSN Publications Sdn. Bhd.
Tahun terbit: 2013
Edisi: Paperback, 217 halaman
Bahasa: Melayu
|
![]() |
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penerbit: Puteh Press
Tahun terbit: 2015
ISBN13: 9789673693160
Edisi: Paperback, 288 halaman
Bahasa: Melayu
|
![]() |
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penerbit: PTS Publishing
Tahun terbit: 2015
ISBN13: 9789674114756
Edisi: Paperback, 304 halaman
Bahasa: Melayu
|

















0 comments:
Posting Komentar