Oleh: Hermawan Aksan
Deskripsi:
Gajah Mada tidak ingin Kerajaan Sunda menjadi kerikil dalam
Kerajaan Majapahit. Untuk melengkapi keberhasilannya menyatukan Nusantara,
Majapahit harus menaklukkan Sunda. Jika kekuatan angkatan perang tidak mungkin,
cara lainnya adalah melalui pernikahan.
Pernikahan Dyah Pitaloka dengan Raja Majapahit, bagi Gajah
Mada, bukanlah perkawinan antara seorang raja dengan putri, melainkan
penyerahan upeti sebagai tanda takluk Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah
Mada, melalui Sumpah Palapa, telah mengukuhkan simbol dirinya sebagai sosok
patih yang ambisius.
Ambisinya itu tidak hanya meluluhlantakkan Kerajaan Sunda,
juga dirinya sendiri. Pahlawan terbesar sepanjang sejarah Majapahit itu, orang
yang pertama kali menyatukan seluruh Nusantara, akhirnya menjadi buronan
negerinya sendiri. Nama besarnya runtuh karena hanya mementingkan ambisi dan
mengabaikan sesuatu yang tak kalah besar: Cinta.
Pendapat ahli:
“Berbahan baku sejarah, novel ini bercerita tentang nilai sebuah kesetiaan dan pengkhianatan.” –Jamal, penulis novel.
“Ending yang menyentuh. Sebuah ‘dongeng’ sejarah yang manis.” –Noviana Kusumawardhani, pencinta novel, praktisi periklanan.
“Novel ini adalah fiksi yang realistis sekaligus realitas yang fiktif. Di dalamnya ditemukan kesadaran sejarah pengarangnya seperti karya-karya Pramoedya Ananta Toer, juga kearifan bahasa seperti selalu ditemukan dalam novel-novel Remy Sylado.” –Arief Gustaman, cerpenis, penulis skenario, pengamat film.
“Di negeri ini, perempuan hanyalah sosok tanpa nama ...”
–halaman 8.
“Aku tak mampu untuk sekadar menunda kepastian. Aku baru
delapan belas tahun. Kalau saja takdir ini terjadi ketika aku sudah setidaknya
dua puluh tahun.” –halaman 9.
“Saya tak punya pikiran untuk menghancurkan kebahagiaan
Baginda. Kebahagiaan Baginda adalah kebahagiaan saya dan seluruh Nusantara.
Saya akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Baginda. Hanya satu yang selalu
bergulung-gulung dalam pikiran saya, bahkan selama hidup saya yang sudah makin
renta ini. Kejayaan Majapahit Wilwatikta! Tak ada yang lain. Segala apa yang
saya perbuat, bahkan sumpah yang sudah terucap sebelum Baginda sendiri lahir,
adalah demi kejayaan Majapahit. Saya tak pernah melanggar sumpah yang sudah
tertumpah. Bukankah Baginda bisa melihat sendiri? Saya tak pernah hidup
bersenang-senang, apalagi bermewah-mewah dengan istana yang megah dan
perhiasan-perhiasan yang melimpah. Semua demi negeri ini.” –halaman 166.
Edisi & cetakan:
Pertama kali diterbitkan oleh Penerbit C Publishing,
Desember 2005.
Diterbitkan kembali oleh Penerbit Bentang, Juli 2007.
![]() |
| Dyah Pitaloka: Korban Ambisi Politik Gajah Mada Penerbit: Bentang Pustaka Tahun terbit: 2007 ISBN: 9789791227087 Edisi: Paperback, 326 halaman Bahasa: Indonesia |


0 comments:
Posting Komentar